SKANDAL HUNTAP KONUT: Proyek “Asal Jadi” Beraroma Korupsi, Nyawa Pengungsi Banjir Diujung Tanduk!

Admin
9 Apr 2026 02:19
Daerah Hukrim 0 242
3 menit membaca

Andowia, bumikonaweutara – Ironi memilukan kembali menyayat hati warga Desa Puuwonua, Kecamatan Andowia. Belum kering luka akibat kehilangan harta benda pada banjir bandang 2019 silam, kini para penyintas bencana harus bertaruh nyawa di bawah bayang-bayang maut yang diciptakan oleh buruknya infrastruktur Hunian Tetap (Huntap).

Tanggul penahan tanah di kompleks perumahan Huntap yang baru seumur jagung kembali ambruk total. Fenomena ini memicu dugaan kuat adanya praktik mark-up anggaran dan pengerjaan “asal-asalan” demi meraup keuntungan pribadi di atas penderitaan rakyat.

oppo_2

Kronologi Kegagalan Konstruksi: Rusak Tanpa Sebab, Ambruk Berulang Kali

Sejak peletakan batu pertama oleh Bupati Konawe Utara, H. Ruksamin, pada 18 Juli 2023 di Desa Puusuli, harapan warga sempat membumbung tinggi setelah empat tahun terlunta-lunta di hunian sementara (Huntara). Namun, realita di lapangan justru menjadi mimpi buruk.

Hanya berselang satu tahun dari masa pembangunan, tanggul tersebut roboh tanpa tersentuh bencana apa pun. Setelah sempat diperbaiki secara ala kadarnya oleh pemilik proyek, kini—tepat pada Kamis (9/4/2026)—tanggul sepanjang puluhan meter itu kembali rata dengan tanah.

“Ini sudah kedua kalinya ambruk. Pertama ambruk mereka datang perbaiki, tapi kalau yang ini sampai sekarang tidak ada tindakan sama sekali,” ketus seorang ibu penghuni Huntap dengan nada bergetar menahan amarah.

Kualitas konstruksi yang rapuh ini bukan sekadar masalah estetika bangunan, melainkan ancaman keselamatan jiwa. Posisi perumahan yang berada di kemiringan lahan membuat robohnya tanggul menjadi ancaman longsor berantai.

  • Ancaman Atas: Rumah-rumah di bagian atas terancam amblas karena tanah penyangganya telah hilang.

  • Ancaman Bawah: Material longsor dan bangunan dari atas siap menghantam rumah-rumah di bagian bawah kapan saja, terutama saat hujan mengguyur.

“Kasihan kami yang di atas, kalau tanggul rusak kami bisa longsor ke bawah. Kami masih trauma dengan bencana dulu yang menghabiskan harta benda kami. Jangan sampai nyawa kami juga melayang karena proyek ini!” ungkap warga tersebut penuh ketakutan.

oppo_2

Menyorot Akar Masalah: Dimana Tanggung Jawab Pemkab dan Kontraktor?

Kejadian ambruknya tanggul untuk kedua kalinya dalam waktu singkat adalah bukti nyata adanya kegagalan sistemik. Publik kini mempertanyakan:

  1. Pengawasan Lemah: Bagaimana mungkin proyek yang ditujukan untuk korban bencana dikerjakan dengan standar “krupuk” yang mudah hancur?

  2. Dugaan Korupsi: Aroma mark-up tercium menyengat. Apakah spesifikasi material dikurangi demi mempertebal kantong oknum tertentu?

  3. Pembiaran: Mengapa pihak pengembang dan Pemerintah Daerah seolah tutup mata pasca kerusakan kedua ini?

Warga mendesak Pemerintah Daerah Konawe Utara dan pihak terkait untuk segera turun tangan melakukan perbaikan permanen, bukan sekadar “tambal sulam” seperti sebelumnya. Aparat penegak hukum juga didesak untuk mengaudit total proyek Huntap ini guna membongkar dugaan korupsi yang membahayakan keselamatan publik.

Rakyat Konawe Utara sudah cukup menderita oleh alam. Jangan lagi mereka dikhianati oleh tangan-tangan serakah yang bermain dalam proyek kemanusiaan.

Redaksi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *