
Sawa, bumikonaweutara – Himpunan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Kecamatan Sawa menyampaikan pernyataan sikap terbuka terkait kondisi pendidikan di SMAN 1 Sawa. Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan kritik terhadap kepemimpinan kepala sekolah yang dinilai gagal membawa kemajuan dan pembenahan di lingkungan sekolah.
Koordinator Lapangan, Aldy Nurul Darmansyah, menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan pendidikan, bukan gerakan yang dilandasi kebencian terhadap institusi sekolah.
“Kami hadir karena mencintai SMAN 1 Sawa dan tidak ingin sekolah ini terus mengalami kemunduran. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral kami sebagai pemuda, pelajar dan mahasiswa,” ujar Aldy dalam penyampaian pernyataan sikap.
Dalam dokumen bertajuk Mengembalikan Kompas yang Hilang, massa menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari dugaan buruknya fasilitas belajar, lemahnya manajerial kepemimpinan, menurunnya disiplin peserta didik, hingga kurangnya transparansi pengelolaan dana BOS.
Selain itu, massa juga menilai kurangnya dukungan terhadap kegiatan ekstrakurikuler serta lemahnya pembinaan siswa menjadi indikator menurunnya kualitas pendidikan di SMAN 1 Sawa.
Sebagai bentuk sikap politik moral, massa bahkan menyatakan mosi tidak percaya terhadap kepemimpinan kepala sekolah saat ini dan mendesak agar yang bersangkutan mundur dari jabatannya.
Koordinator Lapangan Aldy Nurul Darmansyah menegaskan tuntutan tersebut lahir dari aspirasi kolektif yang menginginkan pembenahan menyeluruh.
“Kami mendesak adanya penyegaran kepemimpinan demi perbaikan dan masa depan SMAN 1 Sawa yang lebih berkualitas,” tegasnya.
Meski menyampaikan kritik keras, massa menegaskan aksi dilakukan secara damai dan intelektual, tanpa tindakan anarkis maupun perusakan fasilitas sekolah.
Melalui pernyataan sikap ini, Himpunan Pemuda, Pelajar dan Mahasiswa Kecamatan Sawa berharap Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tenggara segera merespons tuntutan tersebut dan mengambil langkah evaluasi terhadap kondisi SMAN 1 Sawa.
Redaksi.
Tidak ada komentar