
Langgikima, bumikonaweutara — Gesekan sosial di kawasan pertambangan meluap hingga titik didih. Gabungan ormas adat Tamalaki Wonua Ndolaki (Tawon) dan Tamalaki Wonua Konawe (TWK) melontarkan ancaman keras serta ultimatum mati-matian terhadap keberadaan Tenaga Kerja Asing (TKA) yang dinilai makin bertindak arogan, melecehkan adat budaya, dan menindas warga lokal di tanah kelahiran mereka sendiri.
Amarah ini pecah menyusul insiden brutal di wilayah Matarape, perbatasan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah. TKA asal China diduga kuat terlibat aksi pengrusakan kendaraan warga hingga tindak kekerasan fisik terhadap masyarakat Konawe Utara.
Ketua DPD Tawon, Asrin, memimpin seruan perlawanan tersebut dengan nada yang amat membakar dan tanpa kompromi. Ia menegaskan bahwa tanah adat Bumi Oheo tidak akan pernah sudi dijadikan lahan perahan kubu asing yang menumpuk kekayaan sambil menginjak-injak martabat pribumi.
“Kami peringatkan dengan keras! Jangan pernah coba-coba memeras kekayaan Bumi Oheo kalau hanya untuk menginjak-injak harkat dan martabat warga kami! Kalau keberadaan TKA justru mengancam keselamatan, merusak, dan membawa bahaya bagi rakyat, tidak ada alasan untuk membiarkan mereka tersenyum di sini. Angkat kaki atau kami yang bertindak!” seru Asrin dengan nada berapi-api.
Tawon dan TWK menilai gelombang kedatangan TKA bukan lagi sekadar urusan investasi, melainkan bentuk perampasan kesempatan kerja yang secara sistematis meminggirkan anak daerah. Pekerjaan yang seharusnya bisa menghidupi keluarga lokal justru diserahkan ke TKA yang sering kali tidak berizin dan memicu bentrokan sosial.
Asrin juga menyemprot keras aparat penegak hukum dan pemerintah agar berhenti bersikap lembek serta memanjakan oknum pekerja asing yang terkesan “kebal hukum” setelah membuat kerusuhan.
“Jangan sampai rakyat lokal merintih dan menjadi korban barbarisme di tanah nenek moyangnya sendiri! Kami tidak akan tinggal diam melihat TKA berbuat anarkis lalu dilindungi di balik benteng perusahaan. Siapa pun oknum TKA yang merusak dan memukul warga, seret ke hukum! Jika aparat menyepelekan kerusuhan ini, jangan salahkan jika gelombang kemarahan rakyat yang akan menggulung mereka!” tegasnya.
Tawon dan TWK menegaskan, perlawanan ini adalah benteng terakhir untuk memulihkan kehormatan adat dan keselamatan warga lokal. Mereka mendesak pengusutan tuntas atas insiden Matarape tanpa ada yang ditutup-tutupi, sembari mengancam akan memperketat pengawasan swadaya terhadap lalu lintas pekerja asing di kawasan industri pertambangan Konawe Utara.
Redaksi.
Tidak ada komentar