Kisah H. Ahmad: Pionir Sarang Walet di Lalonggasumeeto yang Mengubah “Rumah Hantu” Menjadi Sumber Kebaikan

Admin
24 Jan 2026 11:26
Ekonomi 0 163
3 menit membaca

​KONAWE – Di balik keindahan Desa Wisata Religi Puncak Bumi Indah Lawang Pituh, Desa Bumi Indah, Kecamatan Lalonggasumeeto Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara, tersimpan kisah inspiratif tentang kesabaran, visi, dan kemanusiaan. Adalah H. Ahmad, sosok yang kini dikenal sebagai perintis sukses budidaya sarang burung walet yang mampu merubah ejekan menjadi berkah bagi sesama.

 

​Perjalanan Panjang dan Terpaan Isu Negatif

​Perjalanan H. Ahmad dimulai jauh sebelum kesuksesan hari ini. Menikah pada tahun 1992 dengan warga Desa Lalonggasumeeto, ia baru melihat potensi besar sarang burung walet pada tahun 2006. Dengan keyakinan penuh, ia mendirikan bangunan sarang walet pertama di wilayah tersebut.

 

​Namun, menjadi pionir tidaklah mudah. Selama lima tahun pertama, ia harus bersabar menunggu hasil sambil menghadapi tekanan sosial.

​”Saya harus menahan beribu macam isu tidak baik. Karena merupakan perintis pertama, bangunan itu sempat diisukan warga sebagai sarang kuntilanak,” kenang H. Ahmad.

 

​Belajar Hingga ke Negeri Tirai Bambu

​Keberhasilan H. Ahmad tidak datang dari keberuntungan semata, melainkan dari ilmu yang mumpuni. Ia bercerita bahwa pada tahun 2000, Tanjung Batu mulai belajar dari ahli asal China untuk memahami proses, manfaat, hingga pengelolaan sarang walet.

​Kerjasama dengan kontraktor ahli dari Pulau Jawa yang memiliki ilmu spesifik tentang walet pun dilakukan. Selama sepuluh tahun bekerja sama dengan mitra dari China, usaha ini mulai membuahkan hasil yang sangat memuaskan, bahkan sempat menyentuh harga fantastis sebesar 30 juta rupiah.

 

​Dari Kesabaran Menuju Kesuksesan Finansial

​Setelah melewati masa sulit selama 5 tahun, hasil mulai terlihat.

​Awal Keberhasilan: Menghasilkan 9 juta rupiah per bulan.

​Tahun Ke-3: Meningkat pesat menjadi 30–40 juta rupiah per bulan.

​Puncak di 2018: Saat harga mencapai 18 juta/kg, omzet dari dua bangunan miliknya mampu menembus angka 200 juta rupiah per bulan.

​Saat ini, meski harga pasar berada di angka 8,5 juta/kg untuk kualitas super, bisnisnya tetap stabil dan produktif.

 

​Misi Kemanusiaan: Sarang Walet untuk Kesembuhan

​Bagi H. Ahmad, kekayaan bukanlah tujuan akhir. Ia merasa memiliki tanggung jawab sosial karena banyaknya warga yang datang mengeluh soal kendala kesehatan. Sarang walet memang dikenal kaya manfaat untuk kesehatan tubuh.

 

​”Setiap panen, ada warga yang meminta untuk penyembuhan keluarga. Kadang mereka enggan meminta terus, tapi mereka juga tidak mampu membeli dengan harga yang fantastis,” ungkapnya.

​Hal inilah yang menggerakkan hati H. Ahmad untuk:

​Membantu Sesama: Menyisihkan sebagian hasil panen untuk warga yang membutuhkan pengobatan.

​Pemberdayaan: Membuka jasa pencucian sarang walet dengan biaya 3 juta rupiah per kilogram untuk membantu proses pengolahan.

​Prinsip Hidup: Ia berkomitmen untuk terus menyisihkan sebagian rezekinya bagi kebaikan manusia sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

 

​”Saya ingin bagaimana sarang burung walet ini benar-benar bisa bermanfaat untuk orang lain,” tutup H. Ahmad dengan rendah hati.

 

Redaksi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *