Kunjungan ini terasa istimewa dan kontras. Betapa tidak, sesaat sebelumnya, rombongan masih berada di tengah suasana haru saat menyambangi warga terdampak bencana alam di Desa Padalere. Namun, tanpa jeda untuk sekadar melepas lelah, dedikasi memanggil mereka menuju hamparan luas calon percetakan sawah baru.
Transisi dari penanganan bencana ke pengawalan program strategis pertanian ini memperlihatkan sisi dinamis kepemimpinan di Konawe Utara. Jika di Padalere mereka membawa penghiburan, di Lamonae mereka membawa kepastian.
“Kepemimpinan bukan hanya tentang duduk di balik meja, tapi tentang bagaimana memastikan setiap jengkal tanah di Konawe Utara mampu menghidupi rakyatnya,” ujar H. Ikbar di sela-sela peninjauan.
Fokus utama peninjauan ini adalah memastikan teknis persiapan lahan berjalan sesuai rencana. Targetnya ambisius namun terukur: akhir tahun 2026, hamparan cokelat tanah Lamonae harus sudah berubah menjadi permadani hijau tanda dimulainya musim tanam perdana.
- Lokasi: Desa Lamonae, Kecamatan Wiwirano.
- Misi: Pengawalan langsung program strategis sektor pertanian.
- Target: Tahap tanam serentak pada akhir tahun 2026.
Ada nilai estetika yang tersirat saat melihat seorang Bupati dan Wakil Bupati berdiri di tengah lahan terbuka, berdiskusi dengan para petani dan teknisi lapangan di bawah terik matahari yang mulai melunak. Ini adalah potret “seni mengelola daerah”—di mana empati terhadap korban bencana dan visi pembangunan ekonomi agraris berjalan beriringan dalam satu napas perjalanan dinas.
Langkah kaki mereka di tanah becek Desa Lamonae hari ini adalah janji yang sedang ditepati. Bahwa di masa depan, lumbung pangan Sulawesi Tenggara tidak hanya akan menjadi cerita, tapi sebuah realita yang lahir dari keringat dan pengawalan langsung para pemimpinnya.
Redaksi.




Tidak ada komentar