Camat Langgikima Gebrak Jalan 8 Kilometer, Perusahaan Tambang Didorong Turun Tangan: Jangan Tunggu Jalan Hancur Baru Bergerak

Admin
16 Agu 2026 14:56
Ekonomi 0 28
4 menit membaca

Langgikima, bumikonaweutara — Geliat investasi pertambangan dan pembangunan megaindustri smelter nikel di Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, mulai memicu kebutuhan serius terhadap kesiapan infrastruktur jalan.

Melihat kondisi tersebut, Camat Langgikima Tasruddin mengambil langkah konkret dengan menggandeng masyarakat, pemerintah desa, tokoh masyarakat serta organisasi di lingkar tambang untuk membenahi akses jalan umum sepanjang kurang lebih 8 kilometer, dari Desa Paka Indah menuju Desa Molore.

Tidak sekadar mengandalkan anggaran pemerintah, Tasruddin bersama masyarakat dan organisasi melakukan koordinasi serta kerja sama dengan sejumlah perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Langgikima dan wilayah sekitarnya.

Sejumlah alat berat diturunkan untuk mempercepat pekerjaan, mulai dari dump truck, vibro, grader hingga alat berat lainnya guna melakukan peningkatan dan pelebaran badan jalan.

Akses tersebut ditata dengan lebar mencapai sekitar 16 meter.

Langkah ini menjadi gebrakan penting karena jalur Plora Indah–Molore bukan hanya digunakan masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu urat nadi aktivitas pertambangan di kawasan tersebut.

Puluhan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) nikel disebut menggunakan akses tersebut dalam menjalankan aktivitasnya.

Persoalannya, semakin masif aktivitas pertambangan dan mobilisasi kendaraan berat, semakin besar pula tekanan terhadap kondisi jalan serta lingkungan masyarakat.

Di sinilah pemerintah kecamatan memilih tidak tinggal diam.

Peningkatan dan pelebaran jalan tersebut telah berjalan sekitar dua pekan. Camat Langgikima melibatkan berbagai unsur masyarakat agar prosesnya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda hingga organisasi seperti AMB, TLT, TWK, ALAM dan organisasi lainnya ikut dilibatkan dalam pengawasan.

Keterlibatan masyarakat dinilai penting untuk memastikan akses yang dibangun tersebut benar-benar menjadi jalan umum yang dapat memberikan manfaat bagi warga, bukan semata-mata menjadi jalur pendukung aktivitas perusahaan.

Jangan Sampai Masyarakat Hanya Kebagian Debu

Meningkatnya aktivitas kendaraan tambang dan kendaraan pengangkut alat berat di kawasan Langgikima menjadi perhatian masyarakat.

Sebab, ketika kendaraan perusahaan melintas setiap hari dengan intensitas tinggi, masyarakat di sekitar jalur tersebut juga berhadapan langsung dengan konsekuensinya.

Debu, kerusakan badan jalan, keselamatan pengguna jalan dan meningkatnya mobilitas kendaraan berat merupakan persoalan yang harus diantisipasi sejak awal.

Karena itu, langkah Camat Langgikima menggandeng perusahaan untuk ikut menurunkan alat berat menjadi sinyal tegas bahwa aktivitas investasi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap infrastruktur yang digunakan bersama.

Jangan sampai perusahaan menikmati akses jalan bertahun-tahun, sementara ketika jalan rusak masyarakat justru harus menunggu pemerintah mencari anggaran untuk memperbaikinya.

Langgikima Bersiap Menjadi Kawasan Industri

Jalur Plora Indah–Molore memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu penghubung menuju perusahaan yang sedang membangun megaindustri smelter nikel di Desa Molore.

Dengan rencana peresmian smelter pada 2027, aktivitas di kawasan tersebut diperkirakan akan semakin padat.

Mobilisasi alat berat, kendaraan pengangkut material, tenaga kerja, logistik hingga aktivitas ekonomi lainnya berpotensi meningkat tajam.

Jika infrastruktur tidak dipersiapkan sejak sekarang, bukan tidak mungkin jalan yang ada akan semakin cepat mengalami kerusakan dan masyarakat kembali menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Tasruddin tampaknya tidak ingin menunggu kondisi tersebut terjadi.

Ia merangkul seluruh elemen masyarakat untuk mempersiapkan Langgikima menghadapi perubahan besar yang akan terjadi seiring masuknya investasi industri berskala besar.

Jalan diperlebar sebelum kawasan industri semakin padat. Masyarakat dilibatkan sebelum persoalan membesar. Dan perusahaan diajak turun tangan sebelum beban pembangunan sepenuhnya jatuh ke pemerintah.

Gebrakan tersebut sekaligus menjadi pesan keras bahwa kehadiran investasi di Langgikima harus membawa manfaat nyata bagi daerah dan masyarakat sekitar.

Sebab, pembangunan smelter boleh megah, investasi boleh triliunan rupiah, tetapi jangan sampai masyarakat hanya mendapatkan debu, kerusakan jalan dan risiko keselamatan dari lalu lintas kendaraan tambang.

Kini, dengan kolaborasi pemerintah kecamatan, masyarakat dan perusahaan, akses Plora Indah–Molore sedang dipersiapkan menjadi salah satu jalur penting menghadapi ledakan aktivitas ekonomi Langgikima.

Dan tantangan berikutnya adalah memastikan komitmen tersebut tidak berhenti pada perbaikan jalan hari ini, tetapi berlanjut menjadi tanggung jawab bersama menjaga jalan dan kepentingan masyarakat ketika aktivitas industri benar-benar menggeliat pada 2027.

Redaksi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *