DEBAT PANAS SERTIFIKAT TANAH BERUJUNG MAUT: PURNAWIRAWAN POLRI KABUR USAI KORBAN AMBRUK BERDARAH!

Admin
3 Jul 2026 06:14
Hukrim 0 53
3 menit membaca

KENDARI, bumikonaweutara – Sebuah insiden tragis dan mencekam mengguncang wilayah Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari. Ahmad Mado, seorang pemilik lahan, mendadak ambruk tak berdaya hingga mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya usai terlibat debat panjar sertifikat tanah dengan seorang Purnawirawan Polri bernama Ruslan. Ironisnya, usai melihat korban terkapar, sang pensiunan polisi tersebut langsung melarikan diri dari tempat kejadian perkara (TKP).

Peristiwa menegangkan ini terjadi tepat di atas objek tanah yang disengketakan, yakni lahan berukuran 16×40 meter yang terletak di belakang Tugu MTQ. Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian tersebut disaksikan langsung oleh lima orang di TKP: tiga duduk dan dua berdiri, termasuk Murni (istri korban), Pak Lajadi (rekan Ruslan), Reski (anak korban), serta Satri (keponakan Murni).

Kronologi Ketegangan: Dari Saling Sanggah hingga Tantangan

Aksi adu mulut ini bermula saat Ruslan mendatangi kediaman Ahmad Mado, pada 17:30 hari Selasa 30/6/2026 Korban yang berada di lokasi langsung mempertanyakan keberadaan sertifikat tanah miliknya yang kini pegang oleh Ruslan. Namun, pertanyaan tersebut justru direspons dingin oleh Ruslan yang berpura-pura tidak tahu dengan berujar, “Sertifikat apa?”

Mendengar respons tersebut, Murni, istri korban, langsung menyambar pembicaraan. Dengan nada tegas, Murni mengingatkan bahwa sertifikat tersebut sebelumnya ditebus dari bank untuk diperlihatkan. Saat itu, Ruslan sempat membujuk korban dengan alasan ingin membawa sertifikat tersebut agar istrinya senang.

“Kenapa katanya sertifikat (kamu kasih) sama saya?” sanggah Ruslan di tengah perdebatan, mencoba mengelak.

Murni yang menduga sertifikat tanahnya akan di manipulasi langsung meradang langsung menantang balik pernyataan Ruslan dan membongkar kebohongan sang purnawirawan yang sebelumnya berjanji hanya ingin memperlihatkan surat berharga itu kepada istrinya.

Debat pun memuncak ketika Ruslan mengklaim sepihak bahwa urusan tanah tersebut sudah selesai. Klaim itu langsung dipatahkan oleh korban dan istrinya, mengingat tidak ada bukti penyelesaian otentik yang sah. Murni bahkan membeberkan fakta bahwa Ruslan baru membayar uang panjar sebesar Rp100 juta dari total kesepakatan harga tanah yang mencapai Rp1,1 miliar.

Bersalaman Penuh Amarah, Korban Langsung Terkapar

Setelah hampir satu jam terjebak dalam perdebatan sengit yang menguras emosi, Ruslan yang merupakan mantan anggota korps baju cokelat tiba-tiba menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman, sambil mengucapkan kata “sumpah” Gestur tersebut dilakukan dengan sikap menantang dan raut wajah penuh amarah yang meluap-luap.

Ahmad Mado pun menyambut jabat tangan tersebut. Namun, sesaat setelah tautan tangan itu terjadi, sebuah pemandangan mengerikan tersaji di depan mata keluarga korban. Ahmad Mado mendadak ambruk, jatuh terkapar ke tanah dalam kondisi tak berdaya. Darah segar seketika mengucur deras dari mulut dan hidungnya.

Melihat kondisi Ahmad Mado yang kritis dan bersimbah darah, Ruslan bukannya memberikan pertolongan. Purnawirawan Polri tersebut justru langsung mengambil langkah seribu, lari tunggang-langgang meninggalkan lokasi kejadian, membiarkan korban sekarat di hadapan anak dan istrinya yang histeris.

Hingga berita ini diturunkan, kasus ini tengah menjadi sorotan tajam, dan pihak keluarga menuntut pertanggungjawaban penuh atas insiden maut yang dinilai penuh kejanggalan tersebut.

Redaksi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *